Hasil pencarian...
Tampilkan postingan dengan label gogreen. Tampilkan semua postingan

Buang Sampah Pada Tempatnya

Sampah, sampah dan sampah......!
Yah, itulah salah satu material sisa yang tidak bisa digunakan lagi dalam jangka waktu yang lama. Sampah tidak terlepas dalam kehidupan kita sehari-hari. Baik itu di rumah, di lingkungan masyarakat, sarana umum dan juga di tempat lain. Sampah biasanya berasal dari manusia dan juga alam.
Biasanya sampah yang dihasilkan manusia berasal dari aktivitas keseharian yang memungkinkan timbulnya material baru yang tidak digunakan lagi lalu menjadi sampah. Sedangkan sampah dari alam merupakan dedaunan yang berjatuhan dari pohonnya serta ranting-ranting pohon yang patah dan jatuh kebawah. Tetapi biasanya sampah yang berasal dari alam dapat terurai kembali menjadi tanah melalui proses daur ulang alami karena sifatnya yang organik (bisa terurai). Untuk sampah yang bersifat anorganik (tidak terurai) membutuhkan jangka waktu yang sangat lama agar bisa terurai dengan tanah dan biasanya sering kita jumpai dalam kehidupan sehari-hari seperti sampah plastik, sampah kertas, sampah kaleng dan sebagainya. Dan untuk jenis sampah seperti ini bisa di daur ulang untuk menghasilkan material baru yang bermanfaat.

Namun yang menjadi permasalahan sekarang ini adalah bagaimana caranya agar sampah-sampah ini bisa berada pada tempatnya sehingga bisa di kelola dengan mudah dan tidak menimbulkan dampak pencemaran lingkungan yang sekarang ini sering terjadi khususnya di Indonesia. Banjir yang kerap melanda wilayah-wilayah pemukiman di Indonesia khususnya ibu kota Jakarta. Tak lain disebabkan oleh pencemaran sampah yang ada di parit, sungai, dan kali. Sehingga terjadi penyumbatan aliran air akibat sampah yang menumpuk dan terjadilah banjir. Hal ini tidak terlepas dari kesadaran manusia itu sendiri dalam menjaga lingkungan sekitarnya. Dengan membiasakan diri untuk mem-Buang Sampah pada Tempatnya maka bencana musiman seperti ini mudah-mudahan tidak akan terulang lagi kedepannya.

Marilah mulai dari sekarang kita menjaga lingkungan sendiri yang diawali dengan kebiasaan Buang Sampah pada Tempatnya, mendaur ulang sampah yang tidak terpakai untuk menciptakan suatu material baru yang bermanfaat, memilah sampah organik dan anorganik dalam tempat yang berbeda. Maka alam pun akan tersenyum melihat tingkah kita yang senantiasa menjaga lingkungannya agar tetap bersih, nyaman, dan indah.

Tanamkan kebiasaan ini mulai dari sekarang dengan menumbuhkan kesadaran akan pentingnya kebersihan bagi kehidupan kita sehari-hari. Tidak lagi membuang sampah pada sembarang tempat, mendaur ulang sampah anorganik, dan bersikap peduli terhadap lingkungan sekitar.
Ayo, Buang Sampah pada Tempatnya.....


.:: go green ilmamsyah ::. :)

sumber gambar : 
http://www.economiesolidaire.com


baca selengkapnya »»  

go green ilmamsyah (ggi) | eps.2

Presiden SBY Dukung Kampanye Greenpeace



Saat yang ditunggu-tunggu itu akhirnya tiba ketika kami mendapatkan kepastian waktu bertemu dengan Presiden Republik Indonesia, Dr. H. Susilo Bambang Yudhoyono. Selama hampir lima tahun ketika Greenpeace memulai kampanye nasional dan global untuk menghentikan penghancuran hutan di Indonesia dan menyelamatkan hutan alam –habitat satwa langka yang nyaris punah dan sumber penghidupan jutaan orang yang menggantungkan hidupnya pada hutan, kami terus berusaha meminta waktu untuk dapat bertemu dengan pemimpin negara yang berperan sangat penting tidak hanya dalam konteks politik-ekonomi global, namun juga merupakan salah satu benteng pertahanan terakhir melawan pemburukan perubahan iklim.
Perubahan iklim bukan lagi suatu hal yang diperdebatkan. Di Indonesia sendiri dalam beberapa tahun terakhir kita mengalami berbagai gejala yang menunjukkan bahwa perubahan iklim sedang terjadi – cuaca ekstrim, pegeseran musim yang semakin tidak menentu adalah beberapa contoh gejala yang menyebabkan jutaan warga petani dan nelayan kecil yang menggantungkan mata pencahariannya pada musim menjadi terganggu kehidupannya. Sangat jelas bagaimana dampak perubahan iklim yang paling buruk akan diderita oleh kelompok-kelompok masyarakat yang paling marjinal. Perubahan iklim akan membawa masyarakat miskin terperosok semakin dalam.

selengkapnya di :
Kita Berada di Kapal yang Sama: Presiden SBY Dukung Kampanye Greenpeace | Greenpeace Indonesia

baca selengkapnya »»  

go green ilmamsyah (ggi)

Harimau Sumatera Tak Lagi Bertaring



"Si Belang" nama tokoh yang banyak terdapat di dalam buku cerita binatang ketika saya kecil. Binatang ini dijuluki “Si Belang” seperti itu karena tubuhnya yang belang, memiliki loreng kuning hitam dari mulai kepala hingga ekornya.  Kisah Harimau selalu menjadi kisah yang mampu menggambarkan hewan liar yang perkasa, penguasa hutan, ditakuti oleh semua makhluk hutan lainnya, tak hanya itu manusia pun bergidik dibuatnya. Harimau atau macan punya banyak nama, punya banyak cerita.

Kali ini saya ingin bercerita Harimau asal Sumatera (Panthera tigris sumatrae), disinyalir hewan ini adalah satu-satunya subjenis harimau yang tersisa di tanah air. Kerabat dekatnya yaitu Harimau Jawa (Panthera tigris sondaica) dan Harimau Bali (Panthera tigris balica) diduga sudah punah akibat kehilangan tempat hidup.

Harimau Sumatera mempunyai warna paling gelap diantara semua subspesies harimau lainnya. Belang harimau sumatera lebih tipis daripada subspesies harimau lain. Subspesies ini juga punya lebih banyak janggut serta surai dibandingkan subspesies lain, terutama harimau jantan. Terdapat selaput di sela-sela jarinya yang menjadikan mereka mampu berenang. (1)
Dari sisi konservasi harimau, statusnya cukup menarik perhatian. Termasuk jenis yang terancam kepunahan (IUCN), Appendix I (CITES), dan merupakan jenis yang dilindungi dan spesies prioritas menurut Kementerian Kehutanan.

Habitat Harimau Sumatera adalah tipe lokasi yang memiliki ketinggian 0 – 3000 meter dari permukaan laut seperti hutan hujan tropis, hutan primer dan sekunder pada dataran rendah sampai dataran tinggi, selain itu juga banyak harimau ditemui di areal hutan gambut. Harimau Sumatera dapat bertahan hidup dengan daya dukung lingkungan seperti habitat dengan kualitas baik, tutupan hutan yang utuh, terdapat sumber air, dan tersedianya jumlah mangsa yang cukup.
Sampai dengan pertengahan tahun 2005....

selengkapnya di :
Harimau Sumatera Tak Lagi Bertaring | Greenpeace Indonesia

baca selengkapnya »»